Tempe adalah protein nabati tradisional populer yang memainkan peran penting dalam pola makan masyarakat Indonesia. Namun, ketergantungan Indonesia pada kedelai impor (2,6 juta ton/tahun) untuk produksi tempe menciptakan ketidakstabilan pasar dan kerentanan pangan, terutama terkait fluktuasi biaya dan pasokan. Makalah ini menganalisis kelayakan teknis, ekonomi, dan pasar dari kacang-kacangan alternatif—khususnya, kacang nangka, kacang hijau, dan kacang tanah—sebagai pengganti kedelai yang berkelanjutan dalam produksi tempe. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pilihan yang paling layak untuk peningkatan skala segera guna mendukung sistem pangan lokal dan meningkatkan status gizi.
Analisis menunjukkan bahwa tempe kacang nangka menawarkan peluang paling menarik untuk peningkatan skala segera, terutama karena biaya bahan bakunya yang rendah, yang berarti margin keuntungan potensial tertinggi bagi produsen. Secara nutrisi, tempe kacang nangka adalah alternatif terdekat dengan kedelai, kaya serat dan rendah lemak, sehingga menarik bagi konsumen yang memprioritaskan nutrisi. Tempe kacang campur, khususnya campuran kedelai dan kacang jack bean dengan perbandingan 60:40, menawarkan titik masuk yang lebih rendah risiko bagi produsen, dengan memanfaatkan infrastruktur kedelai yang sudah ada sekaligus mengurangi ketergantungan biaya.