Jurnal

Beras Fortifikasi Sebagai Strategi Komplementer untuk Memperkuat Kualitas Zat Gizi Mikro dalam Program Makan Bergizi Gratis

Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan momentum krusial bagi transformasi gizi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan di Indonesia. Beras yang merupakan makanan pokok utama masyarakat adalah sarana (vehicle) fortifikasi adalah langkah paling strategis dan efisien biaya untuk mengintervensi masalah kekurangan gizi mikro secara massal. Poster visual ini menguraikan bagaimana integrasi Beras Fortifikasi dalam menu pangan lokal yang dianalisis dengan Linear Programming Optifood menunjukkan strategi komplementer yang layak dalam memebantu kesenjangan vitamin B6, seng, tiamin, zat besi, niasin, dan folat. Namun, beras fortifikasi tidak dapat menggantikan prinsip keragaman pangan.

Mengubah Preferensi melalui Pengalaman Nyata: Eksperimen Walking Tour dalam Membingkai Ulang Budaya Pangan

Intervensi di sisi pasokan seperti regulasi dan reformulasi produk sangat penting, namun dampaknya sering kali terhambat karena perubahan di sisi permintaan tidak bergerak dengan kecepatan yang sama. Pilihan pangan masyarakat bersifat kultural dan dibentuk oleh identitas, memori, serta pengalaman sehari-hari—bukan oleh instruksi semata. Dokumen ini mengangkat kesuksesan eksperimen Walking Tour di Jakarta sebagai bukti nyata bagaimana pengalaman menyusuri pasar tradisional dan warung kaki lima dapat membingkai ulang pangan bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai wujud kepedulian, tanggung jawab, dan nilai kehidupan.

Pangan, Keyakinan, dan Kontribusi: Menilik Peran Nilai Sosial Keagamaan dalam Transformasi Sistem Pangan

Diskusi mengenai sistem pangan global sering kali terjebak pada aspek teknis produksi, akses, dan efisiensi logistik, sementara dimensi sosial dan moral di tingkat konsumen kerap terabaikan. Laporan inovatif dari Food Culture Alliance (FCA) Indonesia dan GAIN ini membuka perspektif baru dengan mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai sosial Katolik—seperti martabat manusia, moderasi, dan solidaritas—dapat menggerakkan perubahan perilaku konsumsi pangan. Melalui rangkaian riset, diskusi kelompok terarah (FGD), dan observasi lapangan pada festival budaya-keagamaan, kajian ini menunjukkan bahwa ketika pangan dimaknai sebagai wujud tanggung jawab moral dan aksi kasih sayang terhadap sesama dan bumi, perubahan pola makan yang lebih sehat serta berkelanjutan dapat bertahan lebih lama dan mengakar kuat di komunitas.

Melampaui Logika Gizi: Memanfaatkan Potensi Komedi untuk Mengubah Preferensi dan Budaya Pangan

Di Indonesia, humor bukan sekadar sarana hiburan, melainkan sebuah bahasa sosial yang kuat untuk membicarakan realitas, kelas sosial, dan aspirasi masyarakat tanpa memicu konfrontasi. Food Culture Alliance (FCA) Indonesia dan GAIN meneliti secara mendalam bagaimana pangan direpresentasikan dalam industri komedi tanah air—mulai dari era film legendaris tahun 1970-an hingga tren stand-up comedy modern. Kajian ini mengungkap bahwa ketika pangan masuk ke dalam ranah tawa, ia turut membentuk norma sosial, mempengaruhi preferensi konsumsi, serta menjadi cerminan bagaimana masyarakat memaknai pemeliharaan diri dan kesehatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika “Makan Sehat” Tidak Cukup: Transformasi Budaya Pangan dengan Adopsi Strategi Industri Kecantikan

Edukasi gizi berbasis logika dan risiko kesehatan sering kali belum cukup kuat untuk mengubah perilaku makan masyarakat secara nyata. Laporan inovatif dari Food Culture Alliance (FCA) Indonesia dan GAIN ini menawarkan sudut pandang baru dengan membedah bagaimana industri kecantikan berhasil mengubah persepsi publik—dari sekadar perawatan fisik menjadi sebuah aspirasi gaya hidup dan wellbeing yang emosional. Berdasarkan analisis ekosistem dan diskusi lintas sektor, kajian ini mengeksplorasi bagaimana pendekatan naratif yang menyentuh identitas, kepercayaan diri, dan penerimaan sosial dapat diadaptasi untuk menjadikan pola konsumsi pangan sehat sebagai pilihan yang lebih menarik, relevan, dan dicita-citakan oleh masyarakat Indonesia. Dokumen ini memberikan panduan strategis bagi para komunikator gizi, kreator konten, dan pembuat kebijakan untuk berkolaborasi dengan para storytellers dan penggerak budaya dalam membangun narasi pangan yang segar.

Sumber Alternatif untuk Meningkatkan Keberlanjutan dan Ketahanan Rantai Pasokan Tempe

Tempe adalah protein nabati tradisional populer yang memainkan peran penting dalam pola makan masyarakat Indonesia. Namun, ketergantungan Indonesia pada kedelai impor (2,6 juta ton/tahun) untuk produksi tempe menciptakan ketidakstabilan pasar dan kerentanan pangan, terutama terkait fluktuasi biaya dan pasokan. Makalah ini menganalisis kelayakan teknis, ekonomi, dan pasar dari kacang-kacangan alternatif—khususnya, kacang nangka, kacang hijau, dan kacang tanah—sebagai pengganti kedelai yang berkelanjutan dalam produksi tempe. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pilihan yang paling layak untuk peningkatan skala segera guna mendukung sistem pangan lokal dan meningkatkan status gizi.

Analisis menunjukkan bahwa tempe kacang nangka menawarkan peluang paling menarik untuk peningkatan skala segera, terutama karena biaya bahan bakunya yang rendah, yang berarti margin keuntungan potensial tertinggi bagi produsen. Secara nutrisi, tempe kacang nangka adalah alternatif terdekat dengan kedelai, kaya serat dan rendah lemak, sehingga menarik bagi konsumen yang memprioritaskan nutrisi. Tempe kacang campur, khususnya campuran kedelai dan kacang jack bean dengan perbandingan 60:40, menawarkan titik masuk yang lebih rendah risiko bagi produsen, dengan memanfaatkan infrastruktur kedelai yang sudah ada sekaligus mengurangi ketergantungan biaya.

advanced divider

Get Involved

Klik disini untuk membagikan hasil riset, informasi dan pengetahuan, video, blog, event, webinar terkait dengan perkembangan gizi masyarakat untuk dapat direview oleh tim ahli gizi.


Galeri

Artikel

Galeri

Artikel